07 Sept 2010
    
 
Menu    >> Home  >> >> Kisah 3 
Agenda

 

Polling

 


<05/10/08>

Mengapa Khamar Haram

Seorang laki-laki bertanya kepada Iyas Muawiyah, “Apakah jika aku makan kurma engkau akan menjatuhkan hukuman cambuk kepadaku?”
Iyas Muawiyah menjawab, “Tidak”.

Ia bertanya lagi, “Apakah jika aku makan satu ketel air engkau akan menjatuhkan hukuman cambuk terhadapku?”
Ia menjawab,”Tidak”.

Lelaki itu bertanya lagi, ”Tetapi mengapa minuman yang dibuat dari kurma dan air menjadi haram dan peminumnya dikenai hukuman?”.
Iyas Muawiyah menjawab dengan balik bertanya,”Apakah jika dilempar dengan debu engkau merasa sakit?”
Ia menjawab,”Tidak”

Iyas Muawiyah bertanya lagi,”Apakah jika disiram dengan satu ketel air anggota tubuhmu patah?”
Ia menjawab,”Tidak”

Iyas Muawiyah bertanya lagi,”Ketika aku mencampur air dengan tanah lalu membentuknya menjadi bata dan menjemurnya hingga kering kemudian aku pukulkan bata itu dikepalamu, bagaimana kiranya yang terjadi?”

Ia menjawab,”Kepalaku tentu pecah”.
Iyas Muawiyah menjawab,”Demikian pula halnya khamar yang seperti itu”.

<28/09/08>

Pengadilan Tidak Boleh Tahu Istrinya

Ada seorang perempuan datang ke pengadilan lalu menuntut suaminya memberikan mas kawin lima ratus dinar, suaminya membantah bahwa mas kawinnya belum diberikan. Lalu ia membawa bukti yang menguatkan tuntutannya. Untuk meyakinkan apakah perempuan itu benar-benar istrinya atau bukan, maka para petugas di pengadilan itu meminta agar perempuan itu membuka cadar.

Mendengar permintaan mereka, suaminya kemudian berkata” Jangan lakukan itu, istriku benar atas tuntutannya itu.” Ia mengakui kebenaran dakwaan istrinya dengan maksud agar wajahnya tidak dilihat orang banyak.

Ketika mengetahui demikian, istrinya kemudian mencabut kembali tuntutannya dan mengikhlaskannya di dunia dan akhirat. Betapa baiknya sikapnya yang menunjukkan tekadnya memelihara istri agar tetap terjaga ibarat permata yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Sementara sikap istrinya juga tidak kalah mulia, karena ia mengetahui maksud suaminya maka ia lalu mengubah tuntutannya sebagai ungkapan cinta dan hormatnya pada suami.

<22/09/08>

Para Wali Itu Memiliki Karamah

Inilah Shilat Ibn Asyim, seorang yang ahli ibadah dan pe-zuhud dari kalangan tabiin. Suatu hari dia memutuskan pergi ke wilayah utara untuk berjihad di jalan Allah. Ketika kegelapan malam telah menyelimuti bumi, dia pergi ke dalam hutan untuk melakukan shalat. Dia masuk di antara celah-celah pohon, berwudhu dan berdiri untuk shalat. Tiba-tiba muncul seekor singa yang sangat buas mengaum dan mendekati Shilat yang sedang shalat.

Singa itu berputar-putar mengelilinginya, sementara Shilat tidak menghentikan shalat dan zikirnya. Setelah menyelesaikan dua rakaat shalatnya, Shilat ibn Asyim mengucapkan salam. Kemudian dia berkata kepada singa itu, ”Jika kamu diperintahkan untuk membunuhku maka makanlah aku, jika kamu tidak diperintahkan untuk itu biarkanlah aku bermunajat kepada Rabb-ku,”Singa itu pun mengibas-ngibaskan ekornya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

<16/09/08>

ALLAH MAHA BAIK TERHADAP HAMBA-HAMBANYA

Seorang yang terpandang di kota Riyadh, Arab Saudi, mengabarkan pada saya bahwa pada tahun 1376 H ada sekelompok pelaut penduduk wilayah Jabil pergi melaut. Mereka bermaksud untuk menangkap ikan. Selama tiga hari tiga malam, mereka tidak mendapatkan seekor ikan pun. Dan, mereka pun tidak meninggalkan shalat limat waktu. Pada saat yang sama, ada sekelompok orang yang juga menangkap ikan, tapi mereka ini sama sekali tidak pernah bersujud kepada Allah, tidak pernah melakukan satu shalat pun. Tetapi, mereka mendapatkan ikan yang banyak. Kelompok yang pertama berkata,”Subhanallah, kita shalat tapi tidak berhasil menangkap seekor ikan pun. Sementara mereka yang tidak pernah bersujud kepada Allah, lihatlah hasil tangkapannya.”

Kemudian dia mengambil sebuah mutiara dan melemparkannya ke tengah laut. Dia berkata,”Semoga Allah mengantinya dengan yang lebih baik. Demi Allah saya tidak pernah mengambilnya, karena ini Allah berikan tatkala kita melakukan maksiat kepadaNya dengan meninggalkan shalat. Marilah kita sekarang beranjak dari tempat dimana kita melakukan maksiat kepada Allah di dalamnya.’

Setan pun membisikkan kepada mereka untuk meninggalkan shalat. Dan bersambut, mereka pun tidak shalat shubuh, lalu zhuhur pun ditinggalkan, juga ashar. Setelah ashar mereka ke laut lagi dan ternyata berhasil menangkap seekor ikan. Mereka mangangkat ikan itu dan membelah perutnya. Ternyata di dalam perut ikan itu terdapat mutiara yang sangat mahal harganya. Salah seorang dari mereka mengambil mutiara itu, membolak baliknya, dan mengamatinya. Dan, dia pun berkata,”Subhanallah, pada saat kita taat kepada Allah kita tidak mendapatkan apa-apa. Namun ketika kita durhaka kepadanya kita justru berhasil. Sesungguhnya, rezeki yang kita peroleh ini tidak wajar.”

Mutiara itu dilemparkannya ke laut, seraya berkata,”Allah akan menggantinya. Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya karena kita telah berhasil setelah kita meninggalkan shalat. Marilah kita meninggalkan tempat ini, yang telah membuat kita durhaka kepada Allah.” Setelah tiga mil jauhnya mereka meninggalkan tempat itu, mereka berhenti dan mendirikan kemah. Dan, mereka pun pergi ke laut untuk kedua kalinya. Mereka berhasil menangkap ikan Kun’ud. Perut ikan itu dibelah, dan ternyata di dalam perut ikan itu ada mutiara. Mereka berkata,”Segala puji bagi Allah yang telah memberikan rezeki yang baik kepada kita.” Ini didapatkan setelah mereka kembali shalat, berzikir kepada Allah, dan minta ampunan kepada Allah. Dan, mereka pun mengambil mutiara itu.

Lihatlah, bagaimana keadaaan mereka sebelumnya pada saat durhaka kepada Allah. Rezeki yang mereka dapatkan kotor. Kemudian setelah mereka dalam ketaatan, rezeki yang kotor itu berubah menjadi harta yang baik.

{Jikalau mereka sungguh-sungguh redha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata:”Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karuniaNya dan demikian (pula) RasulNya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah”, (tentulah yang demikian tiu lebih baik bagi mereka).}   (QS. At-Taubah:59)

Ini semua adalah kebaikan Allah. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikan sesuatu yang lebih baik dari yang ditinggalkannya itu.

<10/09/08>

Berkat Doa Seekor Semut di Zaman Nabi Sulaiman

Kebaikan Allah itu berlaku di dunia: di dunia manusia, di dunia binatang, di darat, dan di laut, pada siang dan malam, pada yang bergerak dan yang diam.

“Dan, tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”             (QS. Al-Isra: 44)

Dalam teks Al Quran disebutkan bahwa Nabi Sulaiman diberi kemampuan memahami bahasa binatang. Ketika suatu hari dia keluar bersama para pengawalnya untuk berdoa pada Allah agar diturunkan hujan. Ditengah perjalanannya menuju tempat shalat, dia melihat seekor semut mengangkat kedua kakinya sedang berdoa kepada Rabb Yang Maha Kuasa, kepada Rabb yang selalu memberi, yang memberi karunia, yang memiliki kelembutan dan memberi pertolongan. Nabi Sulaiman pun berkata,”Wahai umat manusia sekalian, kembalilah kalian, telah cukup bagi kalian doa yang dilakukan oleh makhluk lain selain kalian.”

Mulailah hujan turun berkat doa semut tadi, semut yang bahasanya bisa dipahami oleh Nabi Sulaiman, saat dia berangkat dengan pasukannya yang besar itu. Semut itu pulalah yang kemudian memperingatkan saudara-saudaranya agar masuk ke dalam lubang saat pasukan Sulaiman akan lewat.

Berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oelh Sulaiman dan tentaranya, sedang mereka tidak menyadari.” Maka Sulaiman tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. (QS. An-Naml:18-19)

<05/09/08>

Selalu Memohon agar Diturunkan dari Jabatan Gubernur

Konon seorang sahabat besar yang bernama Nu’man bin Maqran ra adalah seorang gubernur atas daerah Kaskar di tepian sungai Tigris yang terletak diantara kota Bagdad dan kota Bashrah. Diceritakan Nu’man ini merasa segan terhadap jabatan tersebut. Selain itu ia menganggap bahwa pangkat dan kepercayaan adalah hal yang remeh. Sehingga ia menulis surat kepada Sayidina Umar bin Khattab ra yang isinya sebagai berikut:

“Wahai amirul mukminin, sungguh perumpamaan diriku dan perumpamaan jabatan gubernur yang saat ini aku berada di dalamnya adalah seperti perumpamaan seorang pemuda yang berada di hadapan wanita cantik yang terus menggoda diri pemuda itu. Sedangkan pemuda itu tetap enggan kepadanya.

Oleh karena itu, sungguh aku memohon pula kepada Allah agar engkau menurunkan aku dari jabatan kepemimpinan  ini, serta agar engkau berkenan mengutusku bersama bala tentara kaum muslimin agar aku berperang di jalan Allah demi meninggikan kalimahNya.

Maka tatkala Nu’man ini terus memaksa kepada Khalifah Umar bin Khattab akhirnya Sayidina Umar mengutusnya pada suatu medan pertempuran yang menjadikannya mati syahid di dalam pertempuran itu.

<01/09/08>

Agar Mereka Tahu Bahwa Kemenangan itu Berasal dari Allah

Sayidina Umar bin Khattab ra telah mencabut kedudukan Khalid bin Walid ra sebagai panglima. Hal ini terjadi setelah di bawah komandonya bala tentara kaum muslimin telah berhasil mencatat kemenangan yang berturut-turut.

Sayidina Umar juga mengirim surat pemberitahuan kepada wilayah-wilayah bagian di bawah kekuasaan daulah islamiyah bahwa Sayidina Umar mencabut kedudukan Khalid bin Walid karena bukan suatu pengkhianatan, akan tetapi disebabkan karena orang-orang banyak yang terperdaya dengan hal itu. Untuk itu, aku (Sayidina Umar) menginginkan agar mereka tahu bahwa kemenangan itu berasal dari Allah.

<25/08/08>

Rasa Malu Salman Al Farisi

Abu Darda bersama Salman Al Farisi (sahabat Rasulullah) berangkat dengan tujuan melamar wanita untuk Salman. Kemudian, Abu Darda mengungkapkan kelebihan Salman, kelebihan agamanya dan lebih dahulu Salman memeluk Islam.

Setelah itu, Abu Darda menyebutkan bahwa Salman berkenan hendak melamar seorang wanita dari keluarga mereka bernama ….(fulanah). Lalu mereka menjawab,”Adapun tentang Salman, kami tidak berkenan menikahkan ia padanya, akan tetapi kami ingin menikahkannya padamu. Maka dari itu nikahilah ia.” Selanjutnya, Abu Darda berkata kepada Salman,”Sungguh, telah terjadi sesuatu, dan aku malu mengungkapkannya padamu.

Salman berkata, “Apa itu?” Lantas Abu Darda menyampaikan isi berita itu. Akhirnya Salman ;berkata,”Aku yang seharusnya malu terhadapmu, yaitu ketika aku hendak menikahinya, tetapi Allah menentukannya untukmu.

<20/08/08>

Berkah Seorang Tetangga yang Bertaqwa

Di kufah tempat Imam Abu Hanifah tinggal terdapat seorang tetangga peminum khamar dan pemabuk. Setiapa malam Abu Hanifah selalu mendengar kebisingan dan teriakan-teriakannya, terutama ketika ia sedang menjalankan shalat-shalat malamnya.

Namun pada beberapa malam belakangan ini Abu Hanifah tidak lagi mendengar suaranya. Lalu Abu Hanifah bertanya tentang keberadaan tetangganya itu. Tetangganya itu telah dipenjara oleh penguasa kerajaan sehingga Abu Hanifah pergi menuju sang penguasa guna membebaskan tetangganya itu akhirnya tetangganya itu dilepaskan. Ia pun bertaubat dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya tersebut. Begitulah kepedulian, perhatian dan kasih sayang seorang yang bertaqwa kepada tetangganya.

<15/08/08>

 

Kecintaan Rasulullah Pada Seorang Badui

Zahir dikenal sebagai seorang badui. Ia sering datang menemui Rasulullah dengan membawa oleh-oleh dari pedalaman. Begitu pula ketika Zahir hendak pamit pergi, Rasulullah selalu memberinya oleh-oleh dan bantuan untuknya dan keluarganya.

Lalu suatu kali Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Zahir adalah orang badui yang kita miliki satu-satunya. Kita mengambil manfaat darinya sebagaimana orang-orang mengambil manfaat dari orang badui yang dimilikinya. Dan kita adalah orang kota yang dimiliki olehnya, dalam arti kita menyiapkan untuknya tahap apa-apa yang dibutuhkan oleh orang badui dari kota

Rasulullah dikenal sangat mencintai Zahir sekalipun ia seorang yang buruk rupa. Pernah suatu ketika Rasulullah mendatangi Zahir ketika ia sedang berada di pasar. Lalu Rasulullah merangkulnya dari belakang seraya mengatakan, “Siapa yang berminat membeli seorang hambah sahaya?” Lalu Zahir berkata,”Wahai Rasulullah, sungguh demi Allah, engkau mendapatiku tak laku dijual, tak diminati.” Lantas Rasulullah bersabda,”Sebenarnya, dimata  Allah bukanlah engkau tak berharga, melainkan sungguh mahal di sisi Allah.


<10/08/08>

Orang Murah Hati

Suatu hari Sayidina Husain Bin Ali berjalan-jalan melewati sekelompok anak yang sedang memakan potongan roti. Lalu mereka memohon kepada Husain agar ikut makan bersama mereka. Sayidina Husain pun ikut makan. Setelah itu Sayidina Husain membawa mereka menuju rumahnya dan memberikan mereka beranekaragam makanan dan pakaian.

Lalu Husain berkata,”Kemurahan ada pada diri mereka. Sebab, mereka tidak memiliki apapun selain apa yang telah mereka berikan padaku. Sedangkan kami memiliki sesuatu yang lebih banyak untuk diberikan daripada mereka.”