07 Sept 2010
    
 
Menu    >> Home  >> >> SIFAT WAJIB BAGI ALLAH 
Agenda

 

Polling

 


<6>
WAHDANIAH

Tuhan Allah bersifat Wahdaniah.
Artinya Esa, Tuhan Allah Maha Esa, mustahil Ia banyak (berbilang) kalau Ia banyak tentu timbul perselisihan atau perbedaan paham antara mereka dan akan binasalah alam ini karena yang satu membawa ke hilir dan yang lain membawah ke mudik. Karena itu Allah Esa, Maha Tunggal. Dalil sifat ini ada di dalam Al-Quran.

Artinya : “Dan Tuhanmu adalah Allah yang Esa, tiada Tuhan selain Dia, Pengasih dan Penyayang”
(Al-Baqarah:163)

Allah itu maha Esa, Allah itu satu. Satu itu kalau pada benda dapat dibelah-belah, tapi Allah tidak dapat dibelah-belah. Berarti satunya Allah juga berbeda dengan satunya  makhluk. Satu secara makhluk berbeda dengan Esanya Allah. Satunya makhluk dapat dipecah dan dibagi-bagi, misalnya makhluk itu kalau dia tidak bergerak, dia akan diam. Kalau tidak diam dia akan bergerak. Itulah tabiah makhluk. Allah tidak dapat dikatakan gerak atau diam. Kita tidak tahu  bagaimana, hanya Allah yang tahu.

Kalau ada yang kata Tuhan itu dua atau lebih artinya Tuhan-Tuhan itu lemah, sebab perlu dua. Yang satu separo dan perlu untuk saling tolong menolong. Ini bukan Tuhan. Katalah Tuhan-Tuhan itu tidak bergaduh, karena mereka berhikmah, tetapi Tuhan-Tuhan itu sudah bekerjasama, artinya lemah. Kalau lemah bukan Tuhan. Sifat kerjasama sifat hamba.

Kalau orang ingin besarkan diri, maka ia akan cari benda-benda yang ada pada dirinya dan tidak ada pada orang lain. Jadi kalau 2 atau lebih Tuhan sama-sama mempunyai sifat yang sama apa yang akan dibanggakan. Tuhan kalau tidak Esa walau mereka dapat berbaik-baik, artinya meletakkan Tuhan lemah. Salah satu sifat khusus Tuhan adalah Esa, tunggal, tidak boleh dipecah-pecah. Kalau dia seperti makhluk, dia bukan Tuhan. Itulah konsep Tuhan.

<5>

QIYAMUHU BINAFSIHI


Tuhan Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi.

Artinya ialah bahwa Allah berdiri sendiri dan tidak memerlukan pertolongan orang lain, mustahil memerlukan pertolongan orang lain. Kalau Ia memerlukan pertolongan orang lain maka Ia adalah lemah, tidak sempurna dan tidak berhak menjadi Tuhan. Tuhan Allah Kuasa, gagah, tegak, berdiri sendiri, tidak memerlukan pertolongan siapapun juga. Ia sudah sempurna tidak memerlukan apa-apa.


Seandainya seluruh manusia sepakat untuk menjadi kafir dan tidak menyembahNya, kesempuraanNya tidak berkurang. Begitu juga bila seluruh manusia berpakat untuk menyembah dan mengabdikan diri kepadaNya, kesempurnaanNya tidak bertambah. Allah tidak memerlukan ibadah atau apa saja dari makhluk ciptaanNya. Sebaliknya merekalah yang berhajat dan memerlukan pertolongan dari Allah setiap saat.Tanpa pertolongan Allah tidak mungkin makhluk akan ada, hidup dan berbuat apa saja.

Allah ciptakan makhluk seperti manusia, gunung, sungai, binatang dan lain-lain setidak-tidaknya ada 2 tujuan:

Allah ingin memperlihatkan kebesarannya,
Allah tidak berhajat pada itu semua. Allah ciptakan berbagai bagai, tetapi Allah hanya bermaksud menunjukkan Allah Maha Besar, Maha Agung, Maha Hebat dan lain-lain.

Keperluan makhluk itu sendiri. Apa yang Allah ciptakan itu, faedahnya kembali pada makhluk bukan kepada Allah.

Dalil Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi ini dalam Al-Quran:

Artinya: “Bahwasanya Allah tidak memerlukan makhluk”
(Al-Ankabut: 6)


<4>

MUKHALAFATUHU LIL HAWADITSI


Allah bersifat Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi.
Artinya Allah berlainan dengan sekalian makhluk, mustahil Ia sama dengan makhluk yang Ia ciptakan. Kalau Allah serupa dengan makhluk, maka Ia bukan Tuhan lagi, karena itu mustahil (tidak mungkin) Ia serupa.

Allah Maha Besar, Tinggi, Agung dengan segala kebesaran, ketinggian dan keagungan-Nya, tidak ada suatu jua diantara makhluk yang menyerupai-Nya dalam kebesaran, ketinggian dan keagunganNya itu. Dalil sifat ini dalam Al-Quran:

Artinya:”Tiada yang menyerupai-Nya suatu juga Ia mendengar lagi melihat”
(Asy-Syura: 11)

Barang siapa yang mengatakan bahwa Allah duduk serupa duduk kita di atas kursi, atau turun serupa turun kita dari tangga atau mempunyai muka serupa dengan muka kita atau mempunyai kaki serupa kaki kita maka orang itu menentang dan ia akan menurunkan derajat Allah.

Seperti dikatakan Allah tidak sama dengan makhluk ciptaanNya. Bila kita faham kedudukan makhluk, tahu kedudukan barang ciptaan Allah kemudian kita tidak tahu bagaimana Allah, itulah ilmu. Kalau kita tahu bagaimana Allah , itu pembohongan bukan ilmu, artinya kita sudah sesat. Kalau sesat dari segi syariat kedudukannya mungkin haram saja. Ergitu juga sesat dari segi tasawuf. Tapi kalau sesat di sudut aqidah dapat mengakibatkan syirik.

Contoh perbedaan antara Allah dan makhluk:

1.Kalau makhluk berada dalam masa, Allah tidak ada dalam masa. Kalau makhluk terlibat dalam malam dan siang. Allah tidak terlibat dalam malam dan siang.

2.Allah juga tidak memerlukan ruang seperti makhluk. Sedangkan makhluk, kalau tidak berada di kanan, dia di kiti. Kalau tidak ada di atas dia di bawah. Kalau tidak berada di depan dia di belakang. Tapi Allah tidak begitu. Allah tidak bertempat. Dia tetap bersama kita di mana kita berada. Tapi dia tidak berada macam kita berada. Tidak pula dia diistilahkan jauh dan dekat mengikut ukuran benda. Jauhnya tidak berjarak, dekatanya tidak pula sempadan.

3.Tidak tahunya kita tentang Allah, itulah tahu, itulah arti ilmu. Berarti kita tahu tentang Allah. Kalau tentang makhluk tidak tahu, itu memang tidak tahu. Sedangkan tentang Allah, bila tidka tahu itulah pengetahuan.

4.Allah itu tidak terlibat dengan masa, sebab ia yang menciptakan masa. Sedangkan makhluk terlibat dengan masa.

<3>

BAQA

Allah bersifat Baqa

Arti Baqa ialah kekal selama-lamanya, mustahil Ia akan lenyap (habis). Allah tidak mungkin akan habis karena kalau Ia tidak ada lagi , maka siapakah yang menjadi Allah sesudah-Nya?
 

Allah kekal buat selama-lamanya dan Ia akan mengekalkan pula syurga dan neraka bersama penghuni-penghuninya.

Dalil dalam Al-Quran bahwa Allah bersifat kekal ialah:

Artinya : “Segala sesuatu akan lenyap kecuali Zat-Nya.” (Al Qashash: 88)

Berlainan Allah dengan makhluk/alam ciptaan Allah ini akan lenyap, kecuali  yang dikekalkan oleh Allah. Para scientist juga sampai pada kesimpulan bahwa suatu saat alam semesta ini akan hancur.

 

<2>

QIDAM


Allah bersifat Qidam, artinya Allah tidak berpermulaan ada-Nya. Mustahil Ia berpermulaan ada-Nya, karena kalau Ia berpermulaan ada-Nya maka samalah ia dengan makhluk. Kalau Ia sama dengan makhluk maka Ia bukan Tuhan. Selain dari pada itu, kalau Ia berpermulaan adaNya, maka siapakah yang menjadikan makhluk yang terdahulu dari padaNya?


Dalil dari Al-Quran atas Qidamnya Allah ialah, Firman-Nya:
Artinya: “Ia-lah (Allah) yang tidak berpermulaan ada-Nya dan pula tidak berkesudaan ada-Nya, Ia-Lah yang lahir wujud-Nya, Ia-Lah yang tersembunyi (Zat-nya) dan Ia tahu tiap-tiap sesuatu.”
(Al Hadid:3)


Alam ciptaan Allah ini berpermulaan, Allahlah yang menciptakan semuanya. Begitu teratur dan canggihnya pentadbiran Allah sehingga sampai sekarang para professor dan scientist yang mencoba menafikan wujudnya Allah belum dapat membuktikan bahwa alam semesta ini terjadi sengan sendirinya. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa alam ini mesti dicipta oleh Allah. Hasil kajian ilmiah mereka juga belum dapat mengira berapa banyak alam ini dan bila alam-alam itu dicipta oleh Allah.

 


<1>

SIFAT WUJUD


Wujud artinya Allah itu ada, mustahil Allah tidak ada
Sungguh Maha Besar dan Pengasihnya Allah kepada manusia karena ia telah memperkenalkan kewujudan dan sifat-sifat diriNya melalui nabi-nabi dan rasul-rasulNya. Inilah nikmat yang terbesar bagi manusia.

Bukti atas adanya Allah ialah adanya diri kita, makhluk-makhluk dan alam semessta ini. Kalau Allah yang menjadikan alam ini tidak ada, tentukah alam ini juga tidak akan ada. Kajian-kajian ilmiah modern membuktikan bahwa tidak mungkin diri kita, makhluk-makhluk dan alam semesta terjadi secara kebetulan saja. Ia mesti melalui proses penciptaan pentadbiran yang sangat luar biasa. Kita melihat dengan mata kepala adanya diri kita, makhluk-makhluk dan alam, ini suatu bukti bahwa ada yang menjadikan. Yang menjadikannya itulah Allah, Tuhan kita.

Kalau kita melihat suatu rumah yang sudah jadi, bagus kelihatannya sudah barang tentu kita yakin bahwa ada tukang yang membuatnya. Kita yakin tidak mungkin rumah itu akan jadi sendiri tanpa ada tukang membuatnya. Begitu juga dengan dunia dan alam semesta ini, sudah tentu ada yang menjadikannya.

Firman Allah dalam Quran:
Artinya: ”Tiada yang berbisik bertiga melainkan Ia yang keempat, tiada yang berbisik berempat melainkan Ia yang kelima, tiada yang berbisik berlima melainkan Ia yang keenam, tiada kurang dari itu, tiada lebih dari itu melainkan Ia bersama dimana mereka berada”
(Al-Mujadalah: &)

Teranglah bahwa Allah ada dan Ia mengetahui apa yang terjadi di  langit dan di bumi. Ia mengetahui bisikan-bisikan hati seseorang. Untuk lebih mengenali dan menghayati wujudnya Allah, Rasulullah menyuruh kita untuk bertafakur:

Terjemahan; Berfikir satu saat itu lebih baik dari ibadah setahun.

Anjuran berfikir bertujuan menyadarkan manusia tentang sifat wujud dan Maha kuasanya Allah.

Perkara-perkara yang bisa dipikirkan adalah tentang diri sendiri. Allah mulakan kejadian kita hanya dari setitik mani. Harga setitik mani lebih rendah dari harga sebiji padi, kalau saja Allah tidak menanamkannya ke dalam rahim wanita. Tidak juga akan berharga kalau Allah tidak memelihara, menghidupkan dengan memberi segala keperluan untuk tinggal di dalam rahim. Belum juga akan berharga sekiranya Allah tidak memudahkan jalan keluar baginya ke atas bumi, dan juga akan berharga kalau tidak dibesarkan Allah serta diberi akal fikiran.


Fikirkan pula nikmat-nikmat Allah yang kita gunakan saat ini. Mata, telinga, kaki, tangan dan semuanya sangat penting untuk keperluan hidup. Allah karuniakan tanpa menagih bayaran sesen pun dari kita. Apa lagi harga mata, telinga, lidah, hati dan akal yang Allah karuniakan, sesungguhnya tidak ternilai. Dengan apa akan dibalas pemberian begitu besar? Fikirkan pula apakah kita sudah berterima kasih kepada Allah? Sudahkah kita tunaikan suruhan-Nya? Sudah berhentikah kita dari membuat perkara-perkara yang dilarang-Nya? Cukupkah sudah  bakti kita sebagai hamba, untuk membalas pemurah dan kasih sayang Allah pemelihara kita itu?

Sesudah berfikir dan membuat kesimpulan, hati terus terbuka, terasa kewujudan, kepemurahan dan kekuasaan Allah SWT. Selanjutnya hati akan menyadarkan akal tentang perlunya Allah itu disembah. Hati selanjutnya akan mengarahkan kaki, tangan dan seluruh anggota lahir menunaikan perintah Allah dan berhenti dari mengerjakan larangan-laranganNya. Kalau tidak begitu, sangat sesuailah ditangiskan, karena butanya hati sebenarnya lebih parah dari butanya mata.

Kemudian  dongakkan muka ke langit! Lihat matahari yang naik dan turun, memberi panas dan menjadikan waktu bermusim-musim, bulan yang mengecil dan membesar, menjadikan malam kadang-kadang gelap, kadang-kadang terang, menjadikan air laut pasang dan surut. Lihat bintang – bintang yang berkerdipan, menghias langit indah berseri-seri. Lihatlah semua itu Sebutlah Allah! Resapkan di hati betapa kuasanya DIA. Pemurahnya DIA. Dengan itu mudah-mudahan akan lembutlah hati untuk tunduk menyembah dan mengabdikan diri pada-Nya. Bersabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

”Siapa yang mendongak ke langit, melihat bulan dan bintang, kemudian terasa dihatinya betapa kuasa-nya Allah, maka sebanyak jumlah bintang-bintang itulah dosanya diampunkan.”

Demikianlah semua itu membuktikan wujud dan Maha Berkuasanya Allah.